KUPU-KUPUKU TANPA MALAM
(Benny Can & Nurfi)
Sinar terang dan sempurna bentuk
bulat kian menyapa, mengarakkan dirinya melewati jemari-jemari awan menyelimuti.
Purnama, begitulah dirinya menyebut atas keindahan malam. Menyeluruh
menyempurnakan segala bentuk dari kegelapan hingga semua semakin jelas tanpa
sembunyi dari terang sinarnya menyapa.
Sinarnya menampkaan lekukan
wajah dari raga yang Tuhan ciptakan. Adalah Ranum nama dari raga yang
terpandangi. Senyum dari atur tata ucap yang melesungkan pipi membuatku tak
ingin berpailing. Tatapan mata bernaung tulisan alis, seraya sendu mengundang
kagum untuk berbalas pandang. Urai rambut yang terikat menambah jelas
pahatan-pahatan karya Tuhan dan aku sebut cantik.
“Ranum, apa
yang kau lihat dan rasakan,” tegurku.
Berbalik pandang, menatap wajahku dan
menyandarkan kepalanya di bahuku.
“Dika, begitu indah alam raya ini,
tertatap indah purnama menyempurnakan keindahan pantai di malam hari. Peluklah
aku dan katakan bahwa kamu takkan pernah meninggalkanku.”
“Semua akan berubah-ubah, seperti
malam ini dan nanti akan berubah siang, seperti cinta yang aku punya pun
berubah untuk lebih mencintai. Aku tak ingin melepasmu karena tanpamu aku
terhempaskan. Mencintai dengan sepenuh hati dan bermunajat cinta pada Tuhan,
takdirmu adalah aku milikinya.” Ucapku meyakinkannya.
“Gombal. Tapi,” guraunya dan terlihat
air matanya menetes.
“Sudahlah,
percayalah dan berfikirlah apa yang terjadi malam ini adalah kecil dari besar bahagia
nantinya,” tegasku sambil mengusap air matanya.
Memeluknya, sepertinya
tak ingin malam berlalu meninggalkan menegur larut. Bersamanya serasa satu dari kata yang
terucap, indah begitulah yang terasakan dan tak ingin terpisahkan hingga
terlupa berapa kali jam berganti angka.
“Ada apa Bang, kok rame dan banyak cewek berlarian,” tanyaku pada orang yang
lewat.
“Biasalah mas, malam minggu. Satpol PP razia cewek
kupu-kupu malam yang berbuat mesum di pantai ini,” jawabnya.
Terlihat raut
wajah panik yang Ranum tunjukkan. “Dika, cepat kita tingalkan tempat ini.”
“Ranum, jangan
takut ada aku di sini. Lagi pula kamu bukan cewek yang dimaksudkan dan tak
mungkin kena razia,” kataku sambil bercanda.
Rasa taku makin
menjadi seolah dia ingin bersembunyi dan memilih dibelakang sambil memegang
erat tanganku. “Ini cewek yang tadi malam kabur saat razia di hotel,” tunjuk
seorang satpol dan sesaat itu memegangi Ranum sambil memanggil temannya.
“Hei,
apa-apaan ini? Ini calon istriku,” marahku pada Salpol PP.
“Sudahlah,
katamu itu lagu lama. Cewek ini penyakit masyarakat, terpaksa harus di bawah ke
kantor,” jawabnya sambil menarik Ranum.
Aku yang tak
percaya hanya diam tanpa kata membiarkan Ranum dibawah dengan air mata
menyatakan sedih. Tersadar kemudian untuk menolongnya, akupun bergegas mengambil
motor dan secepat mungkin menuju kantor Satpol PP. Sesampainya hanya riuh adu
argumen cewek yang terkena razia dengan sattpol PP. Terlihat dan terdengar dari
balik jendela Ranum dengan tegar mempertahankan agumennya.
“Bapak yang
terhormat, bole saja Bapak merazia saya dan semuanya. Perlu Bapak ketahui, saya
sebenarnya tidak ingin seperti ini. Saya tahu pekerjaan ini dilarang oleh agama
dan dibenci oleh sebagian masyarakat. Saya melakukan ini dengan terpaksa untuk mempertahankan hidup dan sekolah adikku,” kata
Ranum.
“Itu omong
kosong, semua akan bilang seperti itu untuk cepat dibebaskan. Kamu dan semuanya
harus merasakan kurungan dan pembinaan agar ada efek jerah serta bisa
berhenti,” kata Satpol PP.
“Pak, kalau
keinginan Bapak untuk saya dan bahkan teman-teman berhenti dari perkerjaan ini,
gampang sekali. Saya akan berhenti mulai saat ini asalkan Bapak memenuhi dua
permintaan, itupun kalau Bapak sanggup,” usul Ranum.
“Apa itu, aku
akan penuhi asalkan kamu dan teman kamu bisa berhenti dari pekerjaan ini.”
jawab Satpol PP.
“Cariakan saya
pekerjaan tetap dan suami, maka saya akan berhenti dari pekerjaan ini,” jawab Ranum.
Keadaan menjadi
hening, tanpa jawab dari Salpol PP. Aku yang tak mampu membohongi perasaan
walau dengan apa yang telah terjadi menjadikan nyata untuk dihadapi, akan
tetapi rasa ini masih ada cinta. Memberanikan diri menemui pimpinan satpol PP
untuk membicarakan tentang Ranum.
Selang sesaat
dari pembicaraan, aku dan pimpinan satpol PP menemukan solusi untuk membebaskan
ranum dengan syarat dan kesanggupanku untuk memenuhi permintaan Ranum yang
diutarakan pada Satpol PP. Setelah kami pun
pergi meninggalkan kantor Satpol PP naik motor dengan maksudku mengantarkanya
pulang kerumahnya.
Tak begitu
jauh, Ranum memintaku berhenti dan turun dari motor. “Dika, kamu sudah tahu
siapa aku yang sebenarnya. Sekarang terserah kamu untuk berbuat apa dan bahkan
aku rela melayanimu seperti melayani tamuku. Akupun rela melepasmu dan mempersilahkanmu mencari penggantiku yang lebih
baik. Aku tak pantas lagi untukmu.”
“Sudahlah. Aku
bilang berhenti dengan ucapanmu,” teriakku.
“Dika, tak harus kau bohongi
keyataan. Ini sudah terlanjur dan terjadi. Biarlah aku dengan duniaku untuk
mempertahankan hidupku dan sebisa mungkin menyekolahkan adikku. Biarkan aku
pulang sendiri,” ucapnya.
“Oya lupa. Asal kamu tahu, aku masih mencintaimu,” tambahnya dari
tangisnya dan setelah itu dia balik arah pergi meninggalkanku dan sesekali
menoleh.
“Ranum. Tunggu aku,” teriakku
sambil berlari menghampirinya dan memegang kedua tangannya. “Aku masih
mencintaimu. Bagiku kamu adalah kupu-kupuku tanpa malam seperti kata mereka yang
menyebutmu kupu-kupu malam,” kataku.
Menatap dan memelukku. “Maafkan
aku, aku tak ingin kehilanganmu.”
“Buah takkan tumbuh tanpa jatuh
dari pohonnya. Begitupun cinta takkan perna lebih baik tanpa ada celah yang
menjatuhkan. Tinggalkan semua dunia gelapmu dan hiduplah lebih baik serta
ikhlaskanlah menjadi pendampingku dengan ikatan halal,” pintaku.
“Aku janji akan meninggalkan
semuanya dan untuk setia dengan satu
cinta, adalahmu sampai akhir menutup waktuku” ucapnya.
Bahagiapun terasakan kembali begitu
melihat dia bisa tersenyum kembali. "Oya, bagaimana kalau kita cepat-cepat
pergi dari sini? Entar kena razia,”candaku kepada Ranum.
Kita pun bergegas pergi dengan naik
motor dan peluk mesranya menggambarkan bahwa kita adalah tertakdir untuk tetap
bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar