Bahasa/Language

Rabu, 19 Maret 2014

KUPU-KUPUKU TANPA MALAM - Radar Madura (Jawa Pos), edisi: 8 September 2013



KUPU-KUPUKU TANPA MALAM
(Benny Can & Nurfi)

Sinar terang dan sempurna bentuk bulat kian menyapa, mengarakkan dirinya melewati jemari-jemari awan menyelimuti. Purnama, begitulah dirinya menyebut atas keindahan malam. Menyeluruh menyempurnakan segala bentuk dari kegelapan hingga semua semakin jelas tanpa sembunyi dari terang sinarnya menyapa.
Sinarnya menampkaan lekukan wajah dari raga yang Tuhan ciptakan. Adalah Ranum nama dari raga yang terpandangi. Senyum dari atur tata ucap yang melesungkan pipi membuatku tak ingin berpailing. Tatapan mata bernaung tulisan alis, seraya sendu mengundang kagum untuk berbalas pandang. Urai rambut yang terikat menambah jelas pahatan-pahatan karya Tuhan dan aku sebut cantik.
“Ranum, apa yang kau lihat dan rasakan,” tegurku.
Berbalik pandang, menatap wajahku dan menyandarkan kepalanya di bahuku.
“Dika, begitu indah alam raya ini, tertatap indah purnama menyempurnakan keindahan pantai di malam hari. Peluklah aku dan katakan bahwa kamu takkan pernah meninggalkanku.”
“Semua­ akan berubah-ubah, seperti malam ini dan nanti akan berubah siang, seperti cinta yang aku punya pun berubah untuk lebih mencintai. Aku tak ingin melepasmu karena tanpamu aku terhempaskan. Mencintai dengan sepenuh hati dan bermunajat cinta pada Tuhan, takdirmu adalah aku milikinya.” Ucapku meyakinkannya.
“Gombal. Tapi,” guraunya dan terlihat air matanya menetes.
“Sudahlah, percayalah dan berfikirlah apa yang terjadi malam ini adalah kecil dari besar bahagia nantinya,” tegasku sambil mengusap air matanya.
Memeluknya, sepertinya tak ingin malam berlalu meninggalkan menegur larut.  Bersamanya serasa satu dari kata yang terucap, indah begitulah yang terasakan dan tak ingin terpisahkan hingga terlupa berapa kali jam berganti angka.
 “Ada apa Bang, kok rame dan banyak cewek berlarian,” tanyaku pada orang yang lewat.
“Biasalah mas, malam minggu. Satpol PP razia cewek kupu-kupu malam yang berbuat mesum di pantai ini,” jawabnya.
Terlihat raut wajah panik yang Ranum tunjukkan. “Dika, cepat kita tingalkan tempat ini.”
“Ranum, jangan takut ada aku di sini. Lagi pula kamu bukan cewek yang dimaksudkan dan tak mungkin kena razia,” kataku sambil bercanda.
Rasa taku makin menjadi seolah dia ingin bersembunyi dan memilih dibelakang sambil memegang erat tanganku. “Ini cewek yang tadi malam kabur saat razia di hotel,” tunjuk seorang satpol dan sesaat itu memegangi Ranum sambil memanggil temannya.
“Hei, apa-apaan ini? Ini calon istriku,” marahku pada Salpol PP.
“Sudahlah, katamu itu lagu lama. Cewek ini penyakit masyarakat, terpaksa harus di bawah ke kantor,” jawabnya sambil menarik Ranum.
Aku yang tak percaya hanya diam tanpa kata membiarkan Ranum dibawah dengan air mata menyatakan sedih. Tersadar kemudian untuk menolongnya, akupun bergegas mengambil motor dan secepat mungkin menuju kantor Satpol PP. Sesampainya hanya riuh adu argumen cewek yang terkena razia dengan sattpol PP. Terlihat dan terdengar dari balik jendela Ranum dengan tegar mempertahankan agumennya.
“Bapak yang terhormat, bole saja Bapak merazia saya dan semuanya. Perlu Bapak ketahui, saya sebenarnya tidak ingin seperti ini. Saya tahu pekerjaan ini dilarang oleh agama dan dibenci oleh sebagian masyarakat. Saya melakukan ini dengan terpaksa untuk  mempertahankan hidup dan sekolah adikku,” kata Ranum.
“Itu omong kosong, semua akan bilang seperti itu untuk cepat dibebaskan. Kamu dan semuanya harus merasakan kurungan dan pembinaan agar ada efek jerah serta bisa berhenti,” kata Satpol PP.
“Pak, kalau keinginan Bapak untuk saya dan bahkan teman-teman berhenti dari perkerjaan ini, gampang sekali. Saya akan berhenti mulai saat ini asalkan Bapak memenuhi dua permintaan, itupun kalau Bapak sanggup,” usul Ranum.
“Apa itu, aku akan penuhi asalkan kamu dan teman kamu bisa berhenti dari pekerjaan ini.” jawab Satpol PP.
“Cariakan saya pekerjaan tetap dan suami, maka saya akan berhenti dari pekerjaan ini,” jawab Ranum.
Keadaan menjadi hening, tanpa jawab dari Salpol PP. Aku yang tak mampu membohongi perasaan walau dengan apa yang telah terjadi menjadikan nyata untuk dihadapi, akan tetapi rasa ini masih ada cinta. Memberanikan diri menemui pimpinan satpol PP untuk membicarakan tentang Ranum.
Selang sesaat dari pembicaraan, aku dan pimpinan satpol PP menemukan solusi untuk membebaskan ranum dengan syarat dan kesanggupanku untuk memenuhi permintaan Ranum yang diutarakan  pada Satpol PP. Setelah kami pun pergi meninggalkan kantor Satpol PP naik motor dengan maksudku mengantarkanya pulang kerumahnya.
Tak begitu jauh, Ranum memintaku berhenti dan turun dari motor. “Dika, kamu sudah tahu siapa aku yang sebenarnya. Sekarang terserah kamu untuk berbuat apa dan bahkan aku rela melayanimu seperti melayani tamuku. Akupun rela melepasmu dan mempersilahkanmu mencari penggantiku yang lebih baik. Aku tak pantas lagi untukmu.”
“Sudahlah. Aku bilang berhenti dengan ucapanmu,” teriakku.
“Dika, tak harus kau bohongi keyataan. Ini sudah terlanjur dan terjadi. Biarlah aku dengan duniaku untuk mempertahankan hidupku dan sebisa mungkin menyekolahkan adikku. Biarkan aku pulang sendiri,” ucapnya.
“Oya lupa. Asal kamu tahu,  aku masih mencintaimu,” tambahnya dari tangisnya dan setelah itu dia balik arah pergi meninggalkanku dan sesekali menoleh.
“Ranum. Tunggu aku,” teriakku sambil berlari menghampirinya dan memegang kedua tangannya. “Aku masih mencintaimu. Bagiku kamu adalah kupu-kupuku tanpa malam seperti kata mereka yang menyebutmu kupu-kupu malam,” kataku.
Menatap dan memelukku. “Maafkan aku, aku tak ingin kehilanganmu.”
“Buah takkan tumbuh tanpa jatuh dari pohonnya. Begitupun cinta takkan perna lebih baik tanpa ada celah yang menjatuhkan. Tinggalkan semua dunia gelapmu dan hiduplah lebih baik serta ikhlaskanlah menjadi pendampingku dengan ikatan halal,” pintaku.
“Aku janji akan meninggalkan semuanya dan untuk  setia dengan satu cinta, adalahmu sampai akhir menutup waktuku” ucapnya.
Bahagiapun terasakan kembali begitu melihat dia bisa tersenyum kembali. "Oya, bagaimana kalau kita cepat-cepat pergi dari sini? Entar kena razia,”candaku kepada Ranum.
Kita pun bergegas pergi dengan naik motor dan peluk mesranya menggambarkan bahwa kita adalah tertakdir untuk tetap bersama.